- Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
- Sagoo Kitchen: Gurih Mantap! Nasi Goreng Kunyit Ayam Bledos di Resto Jadoel
- Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- Hotel Indonesia Natour Raih Penghargaan dari ITTA Foundation
- Beda Tahu Petis Bandung yang Dicicip Jokowi dengan Tahu Petis Semarang
- Redjeki Kuliner: Malas Masak? Pesan Saja Ayam Goreng dan Sayur Lodeh Enak Ini
- Sumber Bestik Pak Darmo: Empuk Gurih Bestik Lidah yang Menggoyang Lidah
- Waroeng Keroepoek : Menikmati Wedang Bergaya Kekinian di 'Cafedangan'
Monumen Gerbong Maut.
- Kabupaten Bangkalan
- Kabupaten Banyuwangi
- Kabupaten Blitar
- Kabupaten Bojonegoro
- Kabupaten Bondowoso
- Kabupaten Gresik
- Kabupaten Jember
- Kabupaten Jombang
- Kabupaten Kediri
- Kabupaten Lamongan
- Kabupaten Lumajang
- Kabupaten Madiun
- Kabupaten Magetan
- Kabupaten Malang
- Kabupaten Mojokerto
- Kabupaten Nganjuk
- Kabupaten Ngawi
- Kabupaten Pacitan
- Kabupaten Pamekasan
- Kabupaten Pasuruan
- Kabupaten Ponorogo
- Kabupaten Probolinggo
- Kabupaten Sampang
- Kabupaten Sidoarjo
- Kabupaten Situbondo
- Kabupaten Sumenep
- Kabupaten Trenggalek
- Kabupaten Tuban
- Kabupaten Tulungagung
- Kota Batu
- Kota Blitar
- Kota Kediri
- Kota Madiun
- Kota Malang
- Kota Mojokerto
- Kota Pasuruan
- Kota Probolinggo
- Kota Surabaya
Di Bondowoso ada sebuah monumen bernama Monumen Gerbong Maut. Monumen ini terletak di tengah jalan, antara alun-alun (lapangan) Bondowoso dan kantor Pemda Kabupaten Bondowoso. Patung beberpa pejuang dibagian depan dengan latar belakang sebuah gerbong kereta api. Monumen ini dibangun untuk mengenang tragedi 62 tahun yang silam. Yang di negeri Belanda dikenal dengan sebutan “De Trein van de Dood” alias Gerbong Maut.
Sabtu tanggal 23 Nopember 1947 penjajah Belanda akan memindahkan 100 tawanan dari penjara Bondowoso ke penjara Kalisosok Surabaya. Para tawanan ini terdiri dari para pejuang dan rakyat sipil. Mereka kemudian dibawa ke Stasiun Bondowoso dan dimasukkan ke dalam 3 gerbong. 32 orang masuk ke gerbong pertama dengan No. GR 5769, 30 orang ke gerbong kedua dengan No. GR 4416 dan sisanya sebanyak 38 orang dimasukkan ke gerbong ketiga dengan No. GR 10152. Gerbong-gerbong ini bukan gerbong penumpang tetapi gerbong barang terbuat dari baja yang tertutup dan tanpa ventilasi. Jadi walaupun hari masih pagi, di dalam gerbong sangat panas dan gelap gulita setelah gerbong dikunci.
Jam 07:30 WIB kereta bertolak ke Surabaya. Di Stasiun Kalisat, gerbong tawanan harus menunggu kereta dari Banyuwangi. Selama 2 jam mereka terpanggang dalam gerbong di bawah terik matahari. Kemudian kereta beranjak meuju Stasiun Jember. Jam 10:30 WIB kereta melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Para tawanan benar-benar terpanggang. Sepanjang perjalanan terjadi hal-hal yang memilukan. Bahkan untuk menghilangkan rasa haus, sebagian tawanan terpaksa minum (maaf) air seni tahanan lainnya.
Mendekati Stasiun Jatiroto, terjadi hujan yang cukup deras. Tetesan air hujan yang masuk dari lubang-lubang kecil ke dalam gerbong, dimanfaatkan oleh para tawanan yang masih hidup. Tapi tidak demikian dengan tawanan di gerbong ketiga (No. GR 10152). Karena gerbongnya masih baru, maka mereka tidak mendapatkan tetesan air sedikitpun. Sesampai di Surabaya, di dalam gerbong ketiga ini tidak ada satu pun tawanan yang hidup. Tragis..
Jam 20:00 WIB kereta sampai di Stasiun Wonokromo. Para tawanan didata. Hasilnya, di gerbong pertama No. GR 5769 sebanyak 5 orang sakit keras; gerbong kedua No. GR 4416 sebanyak 8 orang meninggal; di gerbong ketiga No. GR 10152 seluruh tawanan sebanyak 38 orang meninggal semua.
Sumber: www.masjun.net

Provinsi
